Pencarian

Falsafah Hidup PDF Cetak
Berita - Wacana

'ABDULLAH BERIBADAH PADA ALLAH

oleh: Juz'an

Pengantar

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadanya (wa maa khalaqtu al-jinna wa al-insa illa li ya'buduu/al-Dzariyaat; 56)

Fir'aun tidak mau percaya kepada nabi Musa as. dan nabi Harun as. karena orang bani israil; kaumnya nabi Musa as. dan nabi Harun as. menjadi pelayannya (fa qaaluu anu'minu li basyaraini mitslinaa wa qauma humaa lanaa 'aabiduun/al-Mu'minuun; 47) Orang Israil menjadi pekerja/budaknya Fir'aun.

Sebagian manusia beribadah pada selain Allah (wa ya'buduuna min duuni Allah maa laa yadhurruhum wa laa yanfa'uhum,.../Yunus; 18).

Sebagian manusia ada yang beribadah kepada jin (... bal kaanuu ya'buduuna al- jinna, aktsaruhum bihim mu'minuun/Saba; 41).

Allah mengingatkan kita agar tidak menyembah syethan (alam a'had ilaikum yaa banii aadama anlaa ta'buduu al-syaithaana, innahuu laku  'aduwwun mubiin/Yaasin ; 60)

Semua yang ada di langit dan di bumi di hadapan Yang Maha Rahman sebagai abdun  (in kullu man fi al-samaawaati wa al ardli illaa aati al-rahmaanu'abda/maryam; 93).

Kita beribadah hanya kepada Allah semata ( iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin/ al-Faatikhah; 4).

Beribadah kepada Allah dengan ikhlash (wa maa umiruu illa liya'budu Allaha mukhlishiina lahu al-diin/al-Bayyinah; 5).

 

Data

Buku pelajaran agama bagi para siswa kita menyatakan bahwa tempat ibadah umat Islam di masjid, namun kita juga diajari bahwa semua perbuatan tergantung pada niat; sehingga apapun yang kita lakukan bila diniyatkan untuk beribadah kepada-Nya maka disebut ibadah. Tambahan lagi para akademisi (ulama) mengajarkan bahwa ibadah dikelompokkan dalam dua rumpun yaitu ibadah mahdlah yaitu ibadah yang terbakukan tatacaranya; misalnya: shalat, puasa, haji dan semacamnya, dan ibadah ghairu mahdlah yaitu ibadah yang tidak terbakukan tatacaranya, misalnya melakukan pengajian dan sejenisnya. Dengan demikian sejak semula kita sudah bertemu dengan kontradiksi pemikiran; yang sedikit banyak menimbulkan ketidak-konsistenan dalam bertindak dan bersikap. Ketika shalat dan di masjid kita merasa sebagai hamba Allah yang tekun beribadah, namun setelah selesai shalat dan keluar dari masjid kita menjadi mahluk ekonomi, mahluk politik, mahluk penakluk, atau  mahluk jadi-jadian lainnya.

Memisahkan sikap, pemikiran dan tindakan ke dalam tindak ibadah dan tindak-bukan ibadah, secara tidak sadar kita ulang-ulang dalam berbagai forum kajian. Secara teknis akademis sikap demikian dapat dikategorikan sebagai sekuler. Apapun yang selalu diulang-ulang untuk disampaikan dan diterima; meskipun tidak benar akhirnya akan diterima dan dianggap sebagai benar. Oleh sebab itu dapat kita pahami mengapa seseorang meskipun ritual ibadahnya (misalnya: shalat, puasa, tadarusan dan semacamnya) bagus, namun etika dan kepedulian sosialnya  rendah; suatu hal yang dicela dalam agama. (al-Ma'uun).

 

Pembahasan

abada; artinya: melayani, memuliakan, memuja, menyenangi, mencita-citakan (Hans Wehr, 1974, a Dictionary of modern written arabic, p. 586). Ketika kita telah  memahami bahwa semua yang ada di langit dan dibumi merupakan 'abd Allah (in kullu man fi al-samaawaati wa al-ardli illaa aati al-rahmaanu 'abda/maryam; 93). dan diciptakannya jin dan manusia untuk ber-ibadah kepada-Nya (wa maa khalaqtu al -jinna wa al-insa illa li ya'buduu/al-Dzariyaat; 56) kita dapat memahami makna luas dari ibadah yang tidak hanya sebatas ibadah ritual (baik ibadah mahdlah maupun ghairu mahdlah).  Dan atas dasar ini pula kita dapat mengerti makna larangan agar jangan  beribadah kepada selain Allah; (misalnya beribadah pada jin, syethan dan semacamnya).

Apakah ada orang yang menyembah jin, sebagaimana pernyataan burung hud-hud kepada nabi Sulaiman as (... bal kaanuu ya'buduuna al-jinna,aktsaruhum bihim mu'minuun/saba; 41).  Kenyataannya  tidak ada seorangpun yang  menyembah jin, atau syethan  secara sukarela atau atas dasar penghormatan tulus namun yang terjadi adalah orang yang memberikan peribadatan kepada jin (memberikan sesaji, memuja namanya, meminta bantuan kepadanya dengan cara membaca ayat-ayat al-Qur'an atau membaca do'a-do'a tertentu dengan cara dibalik atau terbalik konsep metafisikanya) tentu ada maksud-maksud tersembunyi, misalnya agar dagangannya laris, memiliki kewibawaan dan disegani oleh kawan maupun lawan, mempunyai kesaktian yang dahsyat, omongane mandi dan semacamnya. Dengan demikian penyembah jin tersebut pada hakikatnya merekayasa para jin untuk memenuhi keinginan pribadinya  dan tentu  orang tersebut harus membayar dengan biaya yang sangat mahal dan resiko yang sangat berat.(wa annahu kaana rijaalun min al-insi ya'uudzuuna bi rijaalin min al -jinni fa zaaduu hum rahaqa/Jin;6)

Ibadah kepada Allah dan bagi Allah menjadi meliputi semua yang kita lakukan dalam bingkai untuk: memuliakan, memuja, mengharap, mencintai Allah, apapun wujud dari tindakan itu. Hanya saja dalam beberapa bagian tatacaranya telah dituntunkan; misalnya shalat, puasa, zajat, haji dan semacamnya, meskipun demikian ibadah tidak hanya sebatas hal-hal yang telah dibakukan tatacaranya tersebut. Bekerja mencari nafkah untuk keluarga, bila dibingkai untuk memuliakan, menghormati, memuja Allah, akan menjadi ibadah pada Allah; (karena bukankah kita telah mengambil hak kewenangan untuk memelihara, merawat, mengatur keluarga, dan bukankah Allah juga menyuruh kita untuk mencari harta kekayaan guna mencukupi kebutuhan hidup keluarga). Dengan alur penalaran yang seperti ini maka jargon: ”sekolah untuk menuntut ilmu adalah ibadah” dapat dipertanggungjawabkan. Dan oleh sebab itu maka pernyataan bahwa: “masjid adalah tempat ibadah umat islam” tidak benar  namun tidak pula keliru, karena pernyataan tersebut hanya mengungkapkan sebagian kecil dari peribadatan yang dilakukan oleh orang islam.

Hal yang pelik dan sulit  dalam beribadah kepada Allah adalah aspek keikhlasan (wa maa umiruu illa liya'budu Allaha mukhlishiina lahu al-diin/al Bayyinah; 5).  sedangkan soal tata cara atau kaifiyatnya untuk jaman sekarang sangat sederhana dan mudah dipahami, karena  teknologi pembelajaran dengan multimedia sudah tersebar luas. Boleh jadi kita merasa telah beribadah kepada Allah, syarat dan rukunnya telah benar secara fiqhiyah (shalat dan puasa dan semacamnya), akan tetapi   ketika  motivasi terdalamnya untuk meraih nama di masyarakat (agar disebut dan dikenali sebagai: 'alim, 'abid, shaleh,agar dicontoh orang lain, menjaga nama dan martabat; karena sering khutbah jum'at, sering ceramah agama dan semacamnya) tentu sulit untuk disebut sebagai ibadah kepada Allah, namun ibadah untuk memenuhi keinginan dan ambisinya atau mematuhi hawa nafsu sendiri (a raaita man ittakhadza ilaahahu hawaahu.../al-Furqan; 43). Tampilan dari peribadatan untuk memuliakan, mematuhi dan menghormati  hawa nafsunya sendiri ini dikemas dalam tampilan yang menyenangkan dan menyejukkan hati atau sangat  simpatik, misalnya dalam ujaran bahwa :”hidup untuk ibadah dan mencari pahala yang sebanyak-banyaknya agar hidup kita diridhai-Nya dan nanti setelah mati diganjar dengan surga-Nya dan tidak menderita karena disiksa di neraka”.  Dibalik ujaran tersebut bukankah terungkapkan secara jelas keinginan hawa nafsu kita yaitu agar dapat hidup abadi dan mulia dengan bertempat tinggal di surga  untuk selama-lamanya, dan bukannya sebagai wujud kepatuhan dan syukur atas karunia Allah yang telah diberikan kepada kita.

Allah memang menjanjikan pahala bagi siapa saja yang mematuhi perintahNya dan menyediakan siksa bagi siapa saja yang melanggar perintaNya, maka dengan tergesa gesa; karena cocok dengan hawa nafsu, orang mengambil jalan pintas dalam penalaran yaitu :” beribadah mematuhi perintahNya untuk mengharap pahala surga yang telah dijanjikan-Nya dan menjauhi laranganNya agar tidak disiksa di neraka”. Namun ilustrasi berikut kiranya dapat memberikan  gambaran yang jelas:

“Ada seorang bernama Pak Karsowujul, ia mempunyai anak laki-laki yang bernama:  Kumarasukma, Socanetra, dan Suryabaskara. Ketika anak-anaknya masih kecil pak Karsowujul sering memberikan hadiah kepada para putranya bila mereka mau belajar, namun ketika para putranya telah dewasa maka pak Karsawujul tidak lagi memberikan hadiah meskipun mereka meraih prestasi bagus dalam belajar. Bahkan bila pak Karsowujul memerintahkan anak-anaknya untuk memperbaiki pagar rumah atau membelah kayu bakar ataupun mengisi bak penampungan air, beliau tidak pernah memberikan upah ataupun pujian. Hal yang  berbeda justru dilakukan oleh pak Karsowujul bila ia  menyuruh orang lain yaitu pak Bahupanewu, maka pak Karsowujul selalu memberikan upah berupa uang, makanan dan ucapan terima kasih atas kerjaan pak Bahupanewu yang telah memperbaiki pagar, membelah kayu bakar atau pekerjaan lainnya. Dan pak Bahupanewupun selalu berharap akan upah tersebut manakala diperintahkan oleh Pak Karsowujul.”

Ilustrasi di atas, bukan cerita carangan, namun kenyataan yang terjadi di lingkungan bahkan diri kita kita. Terhadap orang lain kita memberikan upah namun terhadap anak dan keluarga sendiri kita tidak memberikan upah. Pertanyaannya:

1.      Mengapa pak Karsowujul memberikan upah pada pak Bahupanewu, sementara pada anak-anaknya sendiri beliau tidak memberikan upah.

2.      Layakkah jika: Kumarasukma, Socanetra dan Suryabaskara meminta upah kepada pak Karsowujul atas pekerjaan mereka membelah kayu bakar, mengisi bak penampungan air ataupun memperbaiki pagar rumah.

Pak Karsowujul memberikan upah uang, makanan dan semacamnya karena pak Bahupanewu adalah orang lain,  orang yang jauh, keluar dari lingkup keluarga, sementara Kumarasukma, Socanetra dan Suryabaskara adalah keluarga sendiri dan mereka telah mendapat atau memperoleh cinta kasih dan sayang yang tak terbatas dari pak Karsowujul, sehingga sudah sewajarnya bila ketiga putranya tersebut berbakti dan berterimakasih dan membalas kasih sayang bapaknya dengan cara melakukan apa yang dimaui oleh bapaknya. Bila mereka membantah permintaan orangtuanya; mereka menjadi tercela, dan bukankah Iblis juga telah membantah perintah Tuhan dengan bodoh ketika diminta sujud kepada Adam as. sehingga dikatakan: (...ukhruj minhaa madz'uuman madkhuura/ al-A'raf; 18)

Ilustrasi lain; meskipun bersifat carangan namun agaknya akan dapat menyampaikan gambaran atas peribadatan yang kita lakukan.

“Adalah seorang penguasa yang sangat adil dan memperhatikan kesejahteraan, kemakmuran, ketertiban dan keamanan rakyatnya”. Sang penguasa menyusun tata tertib dan tatacara bermasyarakat bahkan prosedur protokoler bagi siapa saja yang ingin menghadap untuk menyampaikan keluh kesah dan persoalan hidupnya. Untuk menjaga keadilan bagi semua warga, maka hukum ditegakkan; siapa berbuat baik dan menjaga ketertiban akan mendapat hadiah dan siapa saja yang melanggar tata tertib apalagi menimbulkan kerugian pada orang lain akan mendapat sangsi pidana.

Suatu ketika sang penguasa membuka open house/ari paseban/saat setiap orang menghadap. Maka di antara orang yang menghadap terdapat pak Mirongkampuhjingga bersama dengan pak Sedyatunggalkarsa. Adapun pak Mirongkampuhjingga berusaha untuk hidup tertib serta patuh karena menginginkan hadiah-hadiah dari sang penguasa serta tidak mendapat hukuman pidana, sedangkan pak Sedyatunggalkarsa berusaha hidup tertib sebagai wujud kepatuhan dan terima kasih atas limpahan perhatian, penjagaan dan semacamnya dari sang penguasa”.

Kalau kita kaji secara teliti dan mendalam dan hati-hati, kepatuhan pak Mirongkampuhjingga   adalah wujud dari egoisitas pribadi, sang penguasa didudukan dan dianggap sebagai perpanjangan tangan atau sarana untuk mewujudkan keinginan hawa nafsunya. Sementara itu pak Sedyatunggalkarsa mematuhi sang penguasa karena rasa hormat dan terima kasih  pada sang penguasa atas segala perhatiannya, tidak peduli soal diberi hadiah atau dipidana.  Ilustrasi di atas mencandra sikap manusia dalam menyikapi aturan, tata tertib dari sang penguasa. Demikian pula halnya kita dalam beribadah kepada Allah, akankah ibadah dan kepatuhan kita pada Allah sekelas dengan pak Mirangkampuhjingga atau sekelas dengan pak Sedyatunggalkarsa.

Dari ilustrasi di atas, akankah kita menjadi orang yang jauh dari Allah, dengan minta upah pahala atas ibadah kita, ataukah kita ibadah kita sebagai wujud terima kasih atau bersyukur atas karuniaNya. Ketika ibadah kita kepada Allah dalam bayang-bayang angan-angan agar keinginan kita dipenuhi oleh Allah (hidup sejahtera di dunia, masuk surga di akhirat, terhindar dari siksa dan marabahaya), maka pada hakikatnya   keberadaan Allah dan agama yang dituntunkannya hanya berfungsi sebagai perpanjangan tangan untuk meraih ambisi dan keinginan pribadi. Jika demikian halnya, maka mudahlah  untuk memahami mengapa seseorang atas nama  organisasi agama, partai politik, jabatan dan semacamnya; memaksakan kehendak dan keinginan pada orang lain, masyarakat dan negara.

Tentu tidak ada orang lain yang tahu siapakah kita sebenarnya, akankah ibadah kita termasuk dalam rombongan orang yang jauh dari Allah (meminta upah pahala dan surga) atas kepatuhan kita kepada-Nya, ataukah ibadah kita sebagai wujud syukur kepada-Nya. Hanya saja berdasarkan buah dari ibadah yang kita jalani akan mudah dibaca, siapakah sesungguhnya diri kita, apakah hamba-hambaNya yang jauh ataukah hambanya yang dekat. Boleh jadi hellahdan alasan bahwa: “beribadah kepada Allah sebagai wujud syukur dan sekaligus juga permohonan agar dikarunia kesejahteran hidup di dunia dan pahala surga di akhirat”, tetapi secara matematis dan empiris hal tersebut tidak mungkin terjadi. Karena sistem kesadaran kita hanya dan selalu membuat skala prioritas dan yang diposisikan pada nomor satu itu hanya satu; yang lainnya ada di posisi ke dua ke tiga dan seterusnya. Demikian pula menggabungkan keduanya, yaitu antara memenuhi tuntutan  nafsu, atau bersyukur; merupakan hal yang mustahil karena hal itu merupakan syirk ubudiyah namanya. Relung hati manusia hanya mampu memuat satu kecondongan (maa ja'alnaa qalbaini fi jaufihi.../al Ahzab; 4).

Adapun pemilahan yang kita lakukan (karena dianggap benar); yaitu antara amal ibadah (kepada Allah) dan amal yang bukan ibadah, ternyata tidak mempunyai hakikat.   Memilahkan (niyatan) antara ketika shalat di masjid  sebagai ibadah kepada Allah dan setelah itu  jual beli di pasar dan sejenisnya sebagai tindakan mahluk ekonomi; misalnya,  mengakibatkan kehidupan kita terbelah antara memuja/ memuliakan  Allah dengan  memuja/memuliakan kepada selain-Nya.

Buah langsung dari niyat untuk mematuhi, memuliakan, menghormati, memuja Allah di semua bidang kehidupan, akan menjadikan pertanggunjawaban tindakan kita tidak sepotong-potong, namun menjadi utuh yaitu kepada Allah semata. Tidak ada lagi ini untukku, ini untuk Allah, dan ini untuk keroyokan rame-rame (wa ja'aluu lillahi min maa dzara`a min al-kharts wa al-an'aami nashiiban, fa`qaaluu haadza lillahi biza'mihim wa haadzaa li syurakaaina, fa maa kaana li syurakaaihim fa laa yashilu ila Allah, wa maa kaana lilllahi fa huwa yashilu ila syurakaaihim, saa`a maa yahkumuun/al An'am; 136).

 

Tutup Pembuka

Ketika ditanya tentang ikhsan, Rasulullah saw. Menjawab :”al-ikhsaanu an ta'buda Allah ka annaka taraahu, fain lam takun taraahu fainnahu yaraaka”. Dan oleh sebab itu maka Inna shalaatiy wa nusukiy wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbi al- 'aalamin menjadi aktual dalam kehidupan sehari-hari kita.

 

-jzn-